Kematian bagi setiap umat beragama merupakan sebuah keniscayaan sekaligus ritual yang sarat makna. Di lingkungan masyarakat, terutama dalam tradisi Katolik yang berakar kuat pada kebudayaan lokal, ritus kematian tidak berhenti pada hari penjemputan ajal saja. Ada rangkaian penghormatan rohani—mulai dari ibadah duka hingga peringatan hari ke-3, ke-7, 40, dan seterusnya—yang berjalan berdampingan dengan tradisi selamatan ala tradisional.
Selain itu, pendampingan bagi keluarga yang berduka menjadi alasan juga, di masa waktu paling tidak seminggu, ada waktu untuk membantu kebersamaan sembari memberikan bantuan doa bersama, sehingga kebiasaan bersama sebelumnya menjadi di tinggalkan salah satu keluarga oleh yang berduka, menjadi kesadaran bahwa ada kebiasaan baru yang harus di terima.
Dalam acara duka karena kematian, Gereja Stasi mempunyai solidaritas tinggi dengan melihat realitas yang ada, bahwa kematian meninggalkan rasa duka, maka meringankan beban di masa itu, merupakan bagian penting untuk di tanggung bersama. Di mana solidaritas ini diterjemahkan secara nyata melalui pembentukan kelompok pangrukti loyo/ layon (pengurusan jenazah).
Tetapi Gereja Stasi belum mempunyai komitmen besar bagi umat sebelum menerima garis kematian itu. Semua orang tidak tau kapan kematian itu datang tetapi ada hal khusus yang bisa di tentukan tentang kematian, yaitu bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Lansia menjadi bagian untuk melihat fenomena bahwa ada waktu sebelum kematian, masa dimana memelihara mental dan tubuh bagi usia tua yang rentan terhadap kondisi eksternal dirinya. Jadi bukanlah mempercepat kematian di usia tua, tapi menjaga kesiapan untuk bersama Tuhan nanti dengan rela dan bahagia.
Pemeliharaan Orang Tua Menuju Akhir Kehidupan.
Berbicara mengenai kematian berarti memasuki wilayah misteri terbesar kehidupan manusia. Agama, melalui konsep eskatologinya, memberikan kepastian teologis. Namun, ketetapan ini kerap diuji oleh rasa takut manusiawi. Kematian layaknya menjadi ruang bahagia karena keimanan yang menyertainya. Ada kebahagiaan karena Tuhan telah menjanjikan kepastian kebangkitan dan kehidupan kekal bagi pengikut Yesus Kristus. Tapi apakah itu cukup untuk menghilangkan ketakutan. Sepertinya tidak, dengan berbagai alasan itu tetap menjadi ketakutan, terutama yang merasa hidup penuh dengan dosa. Karena kepastian datangnya kematian tidak bisa kita pastikan, selayaknya ada waktu untuk melakukan kehidupan sesuai dengan yang diinginkan Tuhan. Apabila kita mempunyai waktu sampai tua umur kita, sakit-sakitan, istirahat menjadi kurang nyaman, lambat beraktivitas, bukanya harus cepat-cepat menghabisi hidup, tetapi menjaga kondisi itu dan menikmatinya sampai Tuhan menjemput.
Banyak orang tua di Stasi salib suci yang tinggal menikmati masa senja, menunggu waktu Tuhan memanggil untuk kehidupan kekal bersamaNYA. Menjawab kerentanan ini, stasi hadir dengan inisiatif mandiri: iuran bulanan yang sangat terjangkau guna menopang fasilitas yang dipersiapkan secara cuma-cuma. Pangrukti loyo bukanlah sengaja menginginkan orang tua meninggal, tetapi kedukaan di sadari merupakan bagian penting sebagai bantuan di atas segala rasa duka keluarga. Stasi belum memikirkan mengenai tanggung jawab memberikan bantuan tertentu dalam masa senjanya, karena alasan tertentu. Banyak alasannya, salah satunya mengenai tanggung jawab keluarga sebagai bakti mereka kepada orang tua yang memeliharanya sampai dewasa. Sehingga sedikit kemungkinan untuk membantu, kemungkinan hanya di masa tertentu, seperti hari besar keagamaan katolik. Konteks bantuan ini sangat sensitif, karena ada kondisi keluarga dari Lansia yang dibantu, dianggap mempunyai kecukupan pendapatan, justru akan dianggap memberi penghinaan kepada keluarga karena membuat statusnya yang mampu secara ekonomi menjadi tidak mampu. Pemilihan ini akhirnya harus tepat sasaran kepada keluarga yang sangat membutuhkan karena akan merasa terbantu.
Wujud kasih tentunya juga tidak menimbulkan konflik baru, Stasi hanya bisa membantu bantuan kasih secara terbatas kepada keluarga dengan Lansia dalam masa tua mereka, Gereja Stasi mendayagunakan lebih kepada bantuan besar kepada akhir masa hidup, karena dalam ritual gerejawi mempunyai penghormatan besar kepada acara kematian, mulai dari sakramen pengurapan orang sakit yang dilakukan imam sampai upacara kematianya. Bukan tentang prioritas mana yang di dahulukan, karena pemeliharaan orang tua dan kematian, menjadi dua hal yang sama-sama pentingnya.
Umat katolik di Stasi salib suci ini, bukanlah umat yang berpendapatan tinggi, tetapi sebisa mungkin mempunyai kemandirian yang tinggi. Untuk mengatasi problem sangkaan dengan menarik iuran yang berlebihan, dan mencari donatur yang belum tentu bisa membantu, pertama umat tetap memainkan peranan penting sebagai penyokong dengan menarik iuran yang tidak berlebihan dan tidak mendadak. Memberikan persiapan kepada mereka untuk mengatur keuangan pribadinya yang akan di tambahkan pengeluaran berupa iuran. Kemudian bagi yang benar-benar dianggap dalam kategori tidak mampu, seperti janda tua, atau orang tua dengan keluarga berpenghasilan kecil, tidak di berikan tanggung jawab membayar. Kedua, mempunyai keinginan bersama untuk bekerja bersama apabila ada kebutuhan yang membutuhkan pekerjaan fisik walaupun sudah memberikan iuran atau bantuan lebih dari ketentuan - karena banyak tradisi yang memberikan bantuan lebih, hanya tidak mau bekerja fisik-, dan kemampuan pekerjaan di bidang tertentu di sumbangkan untuk kepentingan bersama, misalnya ada tukang kayu memberikan bantuan pembuatan peti, tukang rias bunga memberikan kemampuanya untuk merias accesoris peti, atau kalau di butuhkan ada tukang jahit yang memberikan kemampuanya dalam kebutuhan ini.
Keadilan Hidup bagi Lansia: Antara Medis dan Spiritual
Walaupun Stasi mempunyai alasan untuk memberikan bantuan terbatas kepada lansia, dari sisi ideal sebagai pengikut Kristus melaluiGereja Katolik memandang keutamaan hidup sebagai anugerah yang harus diperjuangkan, bukan dihindari. Perjalanan hidup memang diarahkan untuk menjauhkan diri dari dosa, namun hidup itu sendiri bernilai luhur. Oleh karena itu, perhatian terhadap para orang tua lanjut usia tidak boleh berhenti pada ritus kematian semata.
Sangat tragis manakala ada lansia yang dibiarkan hidup dalam kesakitan dan terbebani oleh keluarga akibat minimnya kepedulian. Hidup harus dibuat bermakna sebelum maut menjemput. Perbaikan taraf kesehatan lansia menjadi sebuah keharusan yang mendesak. Prinsip klasik ora et labora (berdoa dan bekerja) menemukan wujud konkretnya di sini: keseimbangan jasmani dan rohani. Doa tidak cukup hanya dilangitkan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata berupa pemeriksaan kesehatan dan perawatan yang layak. Sejarah misi Katolik di Jawa mencatat bagaimana karya kasih kerap diawali dari klinik-klinik kecil sederhana yang dikelola para Bruder. Seperti klinik sederhana yang didirikan oleh Bruder Theodorus Kersten, SJ (seorang biarawan Jesuit asal Belanda, 1872–1949) di Muntilan, Jawa Tengah, pada awal abad ke-20.
Di era modern dengan adanya jaminan kesehatan seperti BPJS, esensi mendekatkan fasilitas kesehatan langsung ke tengah umat dan masyarakat tetaplah relevan. Akan lebih ideal lagi apabila akses kesehatan fisik tersebut berada dekat dengan ruang doa di gereja. Integrasi antara terapi medis untuk raga dan terapi mental-spiritual di ruang doa menjadi manifestasi utuh pelayanan gereja: merawat hidup dengan penuh martabat, mendampingi proses duka dengan solidaritas nyata, dan meneguhkan pengharapan hingga akhir hayat.

Komentar
Posting Komentar