![]() | |
Menyelami Akar Tradisi dan Penanggalan
Secara historis, penanggalan Jawa berakar dari sistem perhitungan Hindu, yang kemudian diselaraskan dengan kalender Hijriah pada masa Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Penyelarasan ini melahirkan sistem di mana 1 Suro disamakan dengan 1 Muharam. Kalender Saka sebagai perhitungan Hindu yang berasal dari India, kadang-kadang disebut sebagai penanggalan Saliwahana. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar, memadukan fase bulan dan matahari. Pergerakan bulan dan matahari menjadi dasar penghitungan bulan dan tahun. Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara terutama bagian barat, dengan kentalnya pengaruh agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal.
Masyarakat lokal pra-Hindu di Jawa telah mengenal sistem hari pasaran (seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Di masa Majapahit, sistem pekan lokal ini berpadu dengan nama-nama hari Saka asal India (Radite, Coma, Anggara, dst.) serta sistem wuku (siklus 210 hari). Penamaan bulan dan perhitungan hari dalam kalender Saka disesuaikan dengan musim panen dan aktivitas bercocok tanam padi yang menjadi nadi kehidupan masyarakat desa lokal.
Setelah agama Islam masuk, di Mataram, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Menurut kratonjogja.id Kalender Jawa juga disebut sebagai Kalender Sultan Agungan karena diciptakan pada pemerintahan Sultan Agung (1613-1645). yang merupakan raja ketiga dari Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India. Karena Kalender Saka didasarkan pergerakan matahari (solar), berbeda dengan Kalender Hijriyah atau Kalender Islam yang didasarkan pada pergerakan bulan (lunar), perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton menjadi tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam. Untuk itulah diciptakan sebuah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriyah. Sistem penanggalan inilah yang kemudian dikenal sebagai kalender Jawa atau kalender Sultan Agungan. Kalender ini meneruskan tahun Saka, namun melepaskan sistem perhitungan yang lama dan menggantikannya dengan perhitungan berdasar pergerakan bulan. Tapi karena pergantian tersebut tidak mengubah dan memutus perhitungan dari tatanan lama, maka pergeseran peradaban ini tidak mengakibatkan kekacauan, baik bagi masyarakat maupun bagi catatan sejarah.
Perhitungan waktu ini pun melahirkan dinamika kultural yang unik di kemudian hari, seperti tradisi perhitungan umat Islam Aboge yang memiliki metode tersendiri dalam menentukan hari besar keagamaan. Berbeda dengan metode kelompok Islam arus utama. Cara menentukan Tanggal 1 Sura dalam penanggalan Jawa, berpedoman pada petung (perhitungan) Aboge dan Asopon. Aboge adalah kependekan dari Tahun Alip Rebo Wage. Artinya, setiap Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Rabu Wage. Kemudian Asopon, dipahami sebagai Tahun Alip Selasa Pon. Penjelasannya, manakala menganut Asopon, maka Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa Pon. Aboge menjadi babon (pedoman) untuk menentukan kapan datangnya Tanggal 1 Sura Tahun Jawa pada siklus Khurup Aboge (Rebo Wage) yang berlangsung dari Tahun Jawa 1867 -1987 (Tahun 1819 – 1963 M). Kemudian siklus Khurup Selasa Pon (Asopon) berlangsung dari Tahun Jawa 1867 -1987 atau dari Tahun 1936 – 2053 M. Jadi saat ini (Tahun 1957 J atau Tahun 2023 M), pedomannya menggunakan khurup Asopon. Pedoman Asopon ini, akan dipakai sampai dengan Tahun 1987 J atau sampai Tahun 2053 M mendatang.
Aboge ini masih ada penganutnya di kawasan sekitar Stasi salib suci dan Stasi Santo Petrus, yaitu dari desa kedungsalam di dusun kali urang sampai desa Tempursari di dusun sumbergentong, dimana Stasi Santo Petrus ada di situ. kawasan yang merupakan daerah eksodus - bersama daerah lain - di satu kecamatan bernama Donomulyo, tempat penduduk Mataram Islam setelah perang Jawa atau perang Diponegoro bermukim.
Di sinilah letak titik temunya dengan tradisi Gereja Katolik. Jika tahun-tahun baru lain seperti tahun baru Masehi, tahun baru Imlek, dirayakan dengan kemeriahan, Tahun Baru Jawa justru berjalan dalam kesunyian, sebuah pola yang merefleksikan ritme rohani umat Katolik menjelang Paskah. narasi Paskah berakar dari penderitaan, penyaliban (Jumat Agung), dan kematian, yang menuntut kedalaman permenungan sebelum sampai pada sukacita kebangkitan. Paskah didahului oleh Masa Prapaskah selama 40 hari yang bernuansa kontemplatif, pertobatan, dan kesederhanaan. Situasi yang tenang dan reflektif ini membuat perayaan Paskah cenderung lebih khidmat dan terpusat di aktivitas rohani yang khidmat. Karena inti sejati dari kebangkita adalah sebuah peristiwa yang sunyi, transformatif, dan mendalam yang tidak memerlukan atribut duniawi atau pesta pora untuk menyatakan kuasa-Nya.
Inkulturasi: Ketika Yesus "Hidup" di Tanah Jawa
Gereja Katolik di Jawa memperlihatkan bagaimana iman kepada Yesus Kristus dihidupkan melalui balutan tradisi lokal yang kuat. Kesakralan tradisi lokal menjadi kekuatan untuk menghidupi kesakralan katolik. Bagaimana seorang katolik Jawa, yang belum mempunyai pendalaman Alkitab secara intelektual, mempunyai kemampuan batin untuk menaruhnya dalam interaksi sakral seperti Ekaristi dengan sepenuh hati. umat Katolik di Jawa menangkap esensi keimanan melalui kesakralan tradisi dan laku batin yang terhubung dan terikat dengan keyakinan kuat. Dan itu terjadi karena sesungguhnya bagi orang Jawa, kebatinan merupakan laku atau usaha dengan melalui rasa dan hati yang bening, untuk bisa mengetahui urip sejati (kesejatian hidup). Laku batin tersebut dilandasi dengan perbuatan dan perilaku yang baik, budi pekerti yang luhur, hati yang suci bersih, dan dengan selalu manembah atau mendekatkan diri kepada Gusti; Tuhan. Disini khasanah pendekatan melalui intelektualitas akan berjalan bertahap kemudian.
Setiap pelaku kebatinan dalam proses menghidupi batin, akan mengalami beberapa pengalaman, ada yang enak dan ada pula yang dirasa berat. Semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi. Dan pengalaman puncak pelaku kebatinan/spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo (hamba) yang berada dalam hubungan yang serasi dengan Gusti (Tuhan). Istilah populernya adalah: Jumbuhing kawulo Gusti (hubungan serasi hamba dan Tuhan), Manunggaling kawulo Gusti (manunggalnya hamba dan Tuhan) dan Pamore kawulo Gusti (berpadunya hamba dan Tuhan). Yang intinya berarti seorang anak manusia itu telah berada di dalam kehidupan sejatinya dalam lindungan keagungan Tuhan.
Proses inkulturasi ini membuat umat Katolik Jawa memandang lelaku rohani Gereja selaras dengan laku tirakat. Puasa dan pantang tidak lagi sekadar aturan legalistik, melainkan dimaknai sebagai pembentukan karakter batin. Banyak generasi sepuh, yang melakukan prosesi masa paskah misalnya, menjalani puasa 40 hari penuh dengan pola makan sederhana sekali sehari demi melatih ketahanan spiritual. Walaupun ada aturan yang lebih sederhana dalam berpuasa dan berpantang.
Tantangan Generasi dan Pertahanan Nilai Batin
Namun, pergeseran zaman membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan tradisi ini. Ritual berat seperti Misa Malam Paskah dengan sembilan bacaan yang dulunya menjadi ajang penggemblengan keimanan kini telah disederhanakan. Begitu pula dengan tradisi-tradisi khusus seperti Misa Malam Jumat Legi di Gua Maria Sendang Purwaningsih yang mulai menghadapi tantangan regenerasi, di mana kaum muda kerap mulai meninggalkan praktik tersebut sementara para sesepuh berupaya tetap mempertahankannya.
Meski demikian, masyarakat Jawa memiliki cara unik dalam merespons dinamika perubahan. Sikap diam dan konsistensi dalam prinsip—yang dalam khazanah lama kerap disimbolkan dengan keteguhan menghadapi satru (jarak dalam relasi sosial demi prinsip hidup)—menunjukkan bahwa keyakinan batin tidak selalu harus disuarakan dengan gegap gempita. Sering kali, ia dihayati dalam ketabahan yang sunyi.
Pada akhirnya, inkulturasi Katolik di Jawa mengajarkan bahwa iman yang sejati tidak mencabut seseorang dari akar budayanya, melainkan meresapinya. Melalui keheningan bulan Suro dan kedalaman laku prihatin Paskah, umat Katolik Jawa menemukan titik temu yang harmonis: merayakan misteri Ilahi dalam balutan napas tradisi lokal.

Komentar
Posting Komentar